Catatan dari Stadium General: Berpikir Logis Lewat Ilmu Mantik
PONPES YTP - OSIM (Organisasi Siswa Intra Madrasah) MA Yayasan Taman Pengetahuan mengelar Stadium General yang bertemakan, “Berpikir Jauh Lebih Rasional, Terstruktur, dan Objektif” di Gedung Salim Achjar Pondok Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk (14/5/2026). Stadium general yang mengulik ilmu logika ini menghadirkan Gilang Erlangga Kuswoyo, Lc., Dipl., Alumni Pondok Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah tahun 2019 yang telah memperoleh Licence atau Syahadah dalam bidang Akidah di Universitas Al Azhar Mesir.
Dulu, Tidak Semua Bisa Mengakses
Dalam masa dinasti-dinasti Islam,
ilmu mantik hanya bisa diakses oleh bangsawan dan elite. Masyarakat umum tidak
bisa mempelajari ilmu mantik karena terkendala bahasa dan kajiannya yang
filosofis. Dua intelektual Muslim, Al Farabi (w. 951) dan Ibnu Sina (w. 1037)
mempelopori penulisan ilmu mantik dengan bahasa yang mudah dipahami dan
populer. Di tangan Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali (w. 1111), ilmu mantik
diintegrasikan dalam ushul fikih. Ketiga
intelektual Muslim tersebut berhasil ‘mengeluarkan’ ilmu mantik dari istana dan
menyebarkan di masyarakat umum.
Dalam Tahdibul Mantiq wal Kalam
karya Imam Sa'duddin taftazani, ilmu mantik tak terlepas dari dua hal penting. Pertama,
penggambaran (tashawwur). Pengambaran berkaitan erat dengan bagaimana membuat
konseps yang tepat. Kedua, penghukuman
(tashdiq) yang berbicara perihal bagaimana cara menghukumi suatu dengan
benar.
Filsuf Muslim, Ibnu Sina,
sebagaimana tertulis dalam An-Najah, mendefinisikan ilmu mantik sebagai ilmu
yang menjaga akal dari kesalahan berpikir. Ilmu mantik menghindarkan cara
berpikir yang salah, baik dari sisi penggambaran dan penghukuman.
Hukum Belajar Mantik
Secara umum, para ulama berpendapat
boleh mempelajari ilmu mantik yang tidak bertalian dengan filsafat ketuhanan.
Para ulama berbeda pandangan bila ilmu mantik telah bercampur dengan filsafat
ketuhanan. Pertama, Ibnu Shalah berpendapat haram belajar ilmu mantik karena
ilmu logika Islam tersebut merupakan produk filsafat Yunani yang membahayakan
akidah Islam. Resistensi terhadap ilmu mantik semakin terlihat dari Ibnu
Taymiyyah yang menulis buku Ar-Radd 'alal-Mantiqiyyin.
Kedua, jumhur ulama berpendapat boleh. Orang
yang belajar mantik disyaratkan menguasai Al-Qur’an dan Hadits serta berakal
cerdas.
Ketiga, tidak sekadar boleh
belajar ilmu mantik, Imam Al-Ghazali malah menganjurkannya. Bahkan dalam sebuah
pernyataan, Imam Al-Ghazali menegaskan
من لا معرفة له لا يوثق
بعلمه
"Barang siapa yang tidak punya pengetahuan tentang ilmu logika, maka ilmunya tidak dapat dipercaya."
Logika memiliki dua bentuk, yaitu logika
modern dan logika klasik. Lalu, apa perbedaannya? Logika modern menggunakan
teori induksi. Untuk menarik kesimpulan, induksi memerlukan observasi dan penelitian. Teori
induksi digunakan di hampir semua ilmu modern. Sedangkan logika klasik
bertujuan untuk membangun suatu argumentasi dengan tepat bukan untuk
penelitian.
Dalam kitab Al-Miftah fi Ilmil Mantiq,
ada dua pembahasan pokok dalam ilmu mantik, yaitu pengambaran konsep (تصور) dan penghukuman (تصديق).
Kaidah logika:
الحكم علي الشيء فرع عن
تصوره
"Hukum atas sesuatu itu cabang
dari pengkonsepan atau penggambarannya."
Contoh: api (penggambaran), api itu
panas (penghukuman). Sebagai makhluk berakal, manusia tidak akan menghukumi api
itu panas jika tidak mengetahui penggambaran api.
Kaidah logika:
كلما ازداد المفهوم قل
الماصدق و إذا نقص المفهوم زاد الماصدق
"Setiap kali mafhum (yang
dipahami) bertambah maka individu semakin sedikit, tapi ketika mafhum
berkurang maka individu semakin bertambah."
Contoh: seorang yang menyebut, “pondok
pesantren,” maka sebutan tersebut merujuk ke banyak pondok pesantren, baik dari
Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan lain-lain. Bila ada orang mengatakan, “pondok
pesantren di Jawa”, maka ucapan tersebut bisa merujuk pondok pesantren di Jawa Timur, Jawa tengah, Jawa Barat dan provinsi lain di pulau Jawa. Dengan demikian, syarat yang diberikan semakin
banyak, maka sesuatu itu akan menyempit.
Logical Fallacy
Sebagaimana disebutkan, ilmu mantik
menghindari kesalahan berpikir. Ada beberapa macam kesalahan berpikir.
Pertama, appeal to people.
Kesalahan berpikir karena didasarkan atas pengalama atau pandangan orang lain.
Si A, misalnya, berkata kepada Si B, “Jangan merokok. Merokok membahayakan
kesehatan”. Si B lantas membantah, “Pamanku perokok berat dan sehat wal
afiyat”. Dalam konteks ini, pengalaman individu seorang dijadikan sebagai
kebenaran. Padahal pengalaman atau pandangan orang lain tidak bisa dijadikan
sebagai kebenaran.
Kedua, appeal to ignorance. Kesalahan
berpikir yang terletak pada mempertimbangkan sesuatu pada ketidaktahuan. Seorang
ustaz yang mengeklaim paling Al-Qur’an dan hadits, misalnya, menjawab
pertanyaan jamaah, “Ada berapakan rukun shalat, ustaz?” Ustadz tersebut menjawab, “Setahu saya ada
dua, yaitu Al-Qur’an dan hadits.” Jawaban tersebut tidak tepat karena
berdasarkan literatur fikih rukun shalat berjumlah tiga belas.
Ketiga, false attribution. Kesalahan
berpikir yang terjadi karena menjadikan suatu rujukan tidak kepada pakar atau
ahli. Ada seorang santri lulus dari sebuah pondok pesantren, misalnya, bertemu
dengan ustaz yang hafal Al-Qur’an dengan mutqin. Lantas santri tersebut
bertanya kepadanya terkait fikih. Kesalahan berpikir dalam konteks ini terletak
atribusi hafal Al-Qur’an dengan mutqin dianggap bisa menjawab semua pertanyaan
fikih.
Keempat, fallacy of
reification. Kesalahan logika yang terjadi ketika kiasan dianggap sebagai
kenyataan objektif yang dapat menimbulkan sebab-akibat. Pasangan suami-istri
yang baru saja menikah setahun silam duduk di teras rumah. Suami berkata kepada
istri, “Setelah lama kita berpisah, akhirnya mimpi kita terwujud. Waktu membawa
kita menuju pelaminan.” Dalam contoh ini, waktu merupakan hanya kiasan dan
bukan sesuatu yang konkret. Kiasan tidak bisa menimbulkan suatu yang konkret.
Kelima, gambler's fallacy. Secara leksikal, gambler's fallacy berarti kesalahan penjudi. gambler's fallacy merupakan sesat berpikir yang menyatakan bahwa ketika suatu kejadian terjadi berulang kali lantas ditarik kesimpulan bahwa kejadian sebaliknya akan terjadi berikutnya. Sesat berpikir ini dapat dihindari dengan melihat peristiwa secara logis, dan memahami penyebab sesungguhnya di balik suatu hasil.
Kontributor: Jihan Syahira Al Haq (Santriwati Kelas XI-3)

.png)