Dari Babat ke Türkiye, Perjalanan Celvin Menjemput Mimpi dan Menyampaikan Dakwah
Siang
itu, Ahad (10/5/2026), Penulis tengah bersantai sambil memainkan Instagram.
Seperti biasa, story demi story terus dipencet tanpa arah. Hingga tiba-tiba,
muncul unggahan salah satu kawan lama yang sedang menjalani prosesi wisuda di
Türkiye.
![]() |
| Celvin Bayu Adi Pratama setelah menjalani prosesi wisuda. Foto Instagram celvin_bayu |
Pemuda
itu ternyata bukan orang asing.
Ia
adalah Celvin Bayu Adi Pratama, kawan lama penulis semasa mondok dan sekolah di
MTs YTP Kertosono.
Tanpa
berpikir panjang, penulis langsung menghubunginya. Rasa penasaran bercampur
bangga membuat penulis ingin mendengar langsung kisah perjalanan pria asal Desa
Patihan, Babat, Lamongan tersebut hingga bisa berdiri di mimbar kehormatan di
negeri rantau.
Bagi
penulis, Celvin memang sosok yang sejak dulu berbeda.
Ia
dikenal santun, lemah lembut, tekun, dan sangat penyabar. Saat teman-temannya
sudah terlelap malam hari, Celvin sering kali masih terjaga. Kadang membaca
buku, menghafal Al-Qur’an, atau mengulas kembali pelajaran yang dipelajari di
kelas.
Di
lingkungan sekolah maupun pondok, ia juga dikenal dekat dengan adik kelas. Tak
jarang ia membantu mengajari pelajaran yang sulit dipahami. Dalam diskusi
belajar bersama, Celvin menjadi salah satu penggerak yang menghidupkan suasana.
Jika ada materi yang belum dipahami, ia tak segan mendatangi guru untuk
bertanya lebih dalam, bahkan berlatih membaca kitab gundul dengan tekun.
Sejak
kecil pula, Celvin aktif dalam kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah. Ketika
duduk di bangku MTs YTP Kertosono hingga Madrasah Aliyah, ia aktif mengikuti
Tapak Suci.
Setelah
lulus dari MA YTP Kertosono pada tahun 2021, langkah hidupnya mulai menempuh
jalan yang lebih jauh. Ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Türkiye.
Namun,
perjalanan itu tidak dimulai secara instan.
Sebelum
benar-benar berangkat kuliah, Celvin menjalani berbagai pelatihan bahasa Turki
secara intensif. Ia sadar bahwa belajar di negeri orang bukan hanya soal
keberanian pergi jauh, tetapi juga kesiapan menghadapi perbedaan bahasa,
budaya, dan kehidupan.
Celvin
kemudian tercatat sebagai mahasiswa Iğdır Üniversitesi pada jurusan Ilahiyat
(Syariah Islamiyah).
Baginya,
menempuh pendidikan di negeri rantau bukan sekadar perjalanan akademik. Lebih
dari itu, perjalanan tersebut menjadi ruang menempa diri, memperluas pandangan,
sekaligus menguatkan nilai perjuangan dalam menuntut ilmu.
“Perjalanan
selama menempuh studi di Türkiye tentu tidak selalu mudah. Rasa rindu kepada
keluarga, cuaca dingin yang harus dihadapi, budaya yang berbeda, tekanan
akademik, hingga persaingan dalam dunia perkuliahan menjadi bagian dari proses
yang menguatkan langkah saya,” tuturnya.
Meski
demikian, berbagai tantangan itu justru menjadi proses pendewasaan baginya.
Dari setiap kesulitan, Celvin belajar tentang keteguhan, kesabaran, dan arti
perjuangan.
Sejalan
dengan bidang ilmu yang ditekuninya, Celvin juga aktif berdakwah melalui
Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Türkiye. Ia mengemban amanah sebagai
bagian dari Majelis Tarjih dan Tabligh.
Melalui
seminar, kajian, dan berbagai kegiatan keislaman lainnya, ia belajar bahwa ilmu
bukan hanya untuk dipahami sendiri, tetapi juga harus disampaikan agar memberi
manfaat bagi sesama.
Hingga
akhirnya, seluruh proses panjang itu membawanya pada sebuah momen yang tak
pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia dipercaya menjadi perwakilan mahasiswa dalam acara wisuda untuk menyampaikan pidato menggunakan bahasa Turki di hadapan para wisudawan dan tamu undangan.
![]() |
| Celvin ketika menyampaikan pidato mewakili mahasiswa di acara wisuda. Foto: Instagram celvin_bayu |
Dari
seorang anak desa di Babat, Lamongan, Celvin Bayu Adi Pratama membuktikan bahwa
mimpi besar dapat tumbuh dari kesederhanaan, lalu terbang jauh melintasi batas
negara.

