Kenangan Bulan Mulia di Ma'had Ar-Roudlotul Ilmiyah: Saat Ramadhan Mengubah Detak Jantung Pesantren

PONDOK YTP - Bulan Ramadhan bukan sekadar tamu yang mampir di penanggalan setiap tahun. Bagi jutaan hamba, ia adalah musim semi bagi jiwa yang haus ampunan dan transformasi yang lebih baik. Di bulan ini, langit seolah merunduk, memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap doa untuk melesat dan setiap dosa untuk luruh. Namun, jika ingin melihat bagaimana Ramadhan benar-benar ‘menghidupkan’ manusia, tengoklah ke dalam bilik-bilik Ma'had Ar-Roudlotul Ilmiyah (Pondok YTP Kertosono).

Sajadah yang Menunggu Adzan
Semangat itu sudah tampak sejak malam pertama shalat tarawih dilaksanakan. Bahkan sebelum adzan Isya' berkumandang, masjid pondok putri telah dipenuhi sajadah yang terhampar rapi. Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun merdu, memenuhi setiap sudut Nasjid. Jelas terlihat, para Santriwati begitu antusias menyambut datangnya Ramadan.

Padahal, pada hari-hari biasa, beberapa santriwati baru berangkat ke masjid ketika petugas muroqobah bersuara lantang. Itu pun sering kali dengan berlari agar tidak masbuq. Namun, sejak Ramadhan tiba, dengan kesadaran sendiri santriwati datang lebih awal tanpa menunggu arahan. Waktu menunggu adzan pun dipenuhi dengan lantunan Al-Qur’an.

Al-Qur’an: Sahabat yang Tak Pernah Lepas 
Selama Ramadhan, pemandangan Santriwati tanpa mushaf di tangan adalah hal yang langka. Al-Qur’an telah menjadi  sahabat yang tidak pernah terlepas bagi mereka. Dibawa setiap ngaji, diselipkan di antara buku-buku madrasah, hingga menemani saat menunggu waktu shalat.
Waktu tak lagi dibiarkan menguap sia-sia. Target one day one juz bukan lagi sekadar ambisi, melainkan kebutuhan harian. Bahkan, tak sedikit dari Santriwati yang memacu diri hingga khatam dua atau tiga juz dalam sehari. Kesibukan ini secara otomatis menutup celah bagi lisan untuk bergunjing atau melakukan hal yang tak berguna. Di tangan mereka, waktu benar-benar menjadi emas yang disepuh dengan pahala.

Madrasah Kesederhanaan di Atas Piring
Ramadhan di Ma'had Ar-Roudlotul Ilmiyah juga merupakan panggung latihan bagi ego. Tak ada santapan mewah untuk sahur dan berbuka. Menu sahur dari dapur Pesantren sering kali hanya berupa tempe goreng dan tahu dengan berbagai olahannya. Namun, di tengah kantuk yang masih menggelayut dan pilihan kantin dengan lauk pauk biasa, tempe dan tahu itu terasa lebih nikmat karena dimakan dengan bumbu kebersamaan. Mereka belajar satu hal penting: perut tidak butuh kemewahan untuk bisa tegak berdiri melaksanakan ibadah.

Seni Mengendalikan Diri di Meja Berbuka
Ujian sesungguhnya justru hadir saat azan maghrib berkumandang. Meski rasa lapar menggoda untuk meraup semua hidangan, para santri diingatkan untuk tetap bijak. Meja kantin mungkin penuh dengan takjil yang menggiurkan, namun mereka tahu bahwa kenyang memiliki batas.

Prinsip mereka sederhana: Makan secukupnya agar ibadah tak terganggu. Perut yang terlalu penuh hanya akan menjadi beban saat sujud tarawih atau saat mata harus terjaga menelaah kitab di ngaji malam. Melalui piring-piring itu, mereka ditempa menjadi pribadi yang proporsional yaitu pribadi yang tahu kapan harus memulai dan kapan harus berhenti.
Di Ma'had Ar-Roudlotul Ilmiyah Kertosono, Ramadhan adalah Madrasah kebaikan antara semangat yang membara dalam ibadah, mengaji, ketenangan dan kesederhanaan. Di sini, setiap detik adalah ibadah, dan setiap tarikan napas adalah syukur yang menjelma menjadi energi untuk terus menebar kebaikan. 

Penulis: Rahmah Mazidah (XI-3)