Biar Doa Terkabulkan dan Adabnya

 Biar Do'a Terkabulkan dan Adabnya
Oleh: Ust. Humaidillah, S.Pd.I. *)

Ust. Humaidillah, S.Pd.I.
Salah satu nama (asma’) Allah adalah thayyib (Maha baik). Allah terlepas dari sifat-sifat kekurangan. Allah sempurna dalam dzat, sifat, perbuatan, dan Keputusan-Nya. Allah pun hanya menerima yang baik (thayyib) saja.   

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51)، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, ”Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,” namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadits tersebut, salah satu syarat dikabulkannya doa adalah kehalalan makanan-minuman yang dikonsumsi. Rasulullah menyebut ada seorang laki laki-yang menempuh perjalanan jauh, seperti ibadah haji, menuntut ilmu, silaturrahim, dan perjalanan ibadah lain hingga penampilanya kumuh lusuh. Sedangkan apa yang ia makan berasal dari rizki haram, minum dari uang haram, pakaian dari harta haram, dagingnya tumbuh dari makanan haram. Dia mengangkat tangan menengadah "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku", dari mana bisa dikabulkan do’anya?

Jika laki-laki yang disebut Rasulullah sudah menempuh perjalanan ibadah begitu panjang sampai badannya tak terurus, masih tetap tidak dikabulkan doanya lantaran makanan-minuman dan pakaian haram, lantas bagaiamana dengan orang yang ibadahnya minimalis? Hadits tersebut memperingatkan agar menghindari rizki haram, bukan melarang berdo’a atau memutus harapan. Bisa juga orang kafir atau fasiq dikabulkan do’anya atas rahmat Allah murni.

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, "Halalkan makananmu maka kamu akan mustajab doanya. Seorang hamba memasukkan satu suap makanan yang berasal dari haram ke dalam perutnya membuat ibadah empat puluh hari tidak diterima, dan hamba yang dagingnya tumbuh dari makanan haram, neraka lebih utama baginya." (HR Thabrani).

Manusia cenderung memilih yang baik dan bahkan terbaik dalam makanan-minuman, rumah, dan lain-lain. Mereka sadar bahwa semua itu urusan dunia. Lalu, bagaimana nasib manusia bila dalam urusan akhirat tidak memperhatikan lagi halal-haram? Terlebih lagi bersedekah dari sesuatu yang haram.  

لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوْصَهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ

“Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil kerjanya yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana ia membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu.” (HR. Muslim, no. 1014, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu). 

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram).” (HR. Muslim, no. 224).

Berbaik Sangka

Dalam sebuah riwayat diceritakan Nabi Musa bertanya kepada Allah, "Mengapa Engkau menjawab do'a orang shalih hanya satu kali sedangkan orang tidak shalih tiga kali?" Allah menjawab, "Karena orang yg tidak shalih hanya mengandalkan rahmat-Ku, sedangkan orang shalih mengandalkan amalnya". Harapan terhadap rahmat dan karunia Allah harus selalu menjadi bagian dari seluruh sisi kehidupan manusia. Bila manusia mengandalkan amal semata, seberapa kualitas amal manusia? Apakah amal tersebut telah diterima Allah?

Di samping ada kaitannya dengan halal makanan-minuman, do'a seorang manusia merupakan ungkapan penghambaan kepada-Nya sekaligus pengakuan kelemahan diri. Karena itu, tidak sepatutnya, berdo'a dalam rangka menuntut agar Allah memenuhi segala kemauan manusia.     

Ketika orang shalih berdoa, Allah berkata kepada para malaikat, "Wahai malaikat tahan dulu doa hambaku, jangan penuhi dulu, Aku suka mendengar suaranya." Ketika orang tidak shalih meminta keinginannya terpenuhi, Allah berkata, "Wahai malaikat, cepat penuhi permintaannya. Aku benci suaranya."

Hal tersebut tidak berbeda jauh dengan respons terhadap pengamen jalanan. Bila lagu dan suaranya enak, biasanya pemberian ditahan hingga nyanyian selesai. Namun, bila suara pengamen jembret, biasanya uang receh segera diberikan agar pengamen lekas pergi.

Karena itu, bila belum terkabul, do’a tetap dipanjatkan dan senantiasa berhusnudzon kepada Allah. Allah suka mendengar do'a yang dimunajatkan hamba-Nya.  

*) Ustadz Pondok Pesantren Ar Roudlotul Ilmiyah Kertosono Nganjuk