Bagaimana Syaikh al-Buthi Membaca Sirah Nabi? (bagian Kedua)
Oleh: Ust. M. Syahiduzzaman, Lc.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika membahas sejarah Nabi Muhammad ﷺ, bagaimana metode memahami sirah? Pertanyaan ini menjadi semakin penting di tengah berkembangnya kajian sejarah modern yang menggunakan pendekatan kritis terhadap berbagai sumber sejarah.
![]() |
| Syaikh Al-Buthi (1929-2013) |
Syaikh al-Buthi
memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini. Baginya, sirah Nabi tidak
cukup dipahami hanya melalui pendekatan sejarah modern, tetapi juga harus
memperhatikan karakteristik sumber-sumber Islam, terutama Al-Qur'an, hadis, dan
tradisi keilmuan para ulama. Karena itulah, pembahasan dalam Fiqh as-Sirah
an-Nabawiyyah tidak hanya mengulas kronologi perjalanan hidup Rasulullah ﷺ, tetapi juga menjelaskan bagaimana
peristiwa-peristiwa tersebut seharusnya dibaca dan dipahami.
Kekuatan dan Keterbatasan Historiografi Modern
Syaikh al-Buthi tidak
menolak historiografi modern sebagai disiplin ilmu. Sebaliknya, Syaikh al-Buthi
mengakui bahwa metode sejarah modern sangat bermanfaat untuk meneliti banyak
aspek sejarah, seperti keaslian dokumen, kronologi peristiwa, kondisi
sosial-politik, maupun hubungan sebab dan akibat dalam suatu peristiwa.
Persoalan baru muncul
ketika historiografi modern dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai seluruh
sejarah kenabian. Hal ini karena sejarah para nabi tidak hanya berbicara
tentang fakta-fakta sosial dan politik, tetapi juga memuat unsur wahyu,
mukjizat, dan campur tangan Allah dalam kehidupan manusia. Aspek-aspek tersebut
berada di luar jangkauan metode empiris yang menjadi landasan utama
historiografi modern. Dengan kata lain, keterbatasan bukan terletak pada ilmu
sejarah itu sendiri, melainkan pada ruang lingkup metode yang digunakannya.
Syaikh al-Buthi menilai
bahwa sebagian kritik terhadap sirah Nabi berawal dari asumsi yang telah
ditetapkan sebelum penelitian dilakukan. Misalnya, ada anggapan bahwa mukjizat
tidak mungkin terjadi karena tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Apabila
asumsi tersebut dijadikan titik awal penelitian, kesimpulan akhirnya hampir
dapat dipastikan akan menolak seluruh riwayat yang memuat mukjizat. Dalam
pandangan Syaikh al-Buthi, hal itu bukan lagi sikap ilmiah yang netral,
melainkan pilihan filosofis yang membatasi kemungkinan-kemungkinan di luar
hukum alam yang biasa diamati manusia.
Metode saintifik hanya
dapat menilai fenomena yang berada dalam wilayah pengamatan empiris. Adapun
wahyu dan mukjizat merupakan bagian dari wilayah metafisika yang memang tidak
dirancang untuk diuji dengan perangkat tersebut. Seorang sejarawan boleh
mengatakan suatu peristiwa tidak dapat diverifikasi melalui uji saintifik. Akan
tetapi, berbeda halnya jika ia menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut pasti
tidak pernah terjadi. Menurut Syaikh al-Buthi, kesimpulan seperti ini telah
melampaui batas metodologinya sendiri.
Tradisi
Islam Memiliki Sanad Sebagai Sistem Verifikasi
Syaikh al-Buthi juga
menegaskan bahwa tradisi keilmuan Islam tidak lantas menerima setiap berita
sejarah begitu saja. Sejak masa awal Islam, para ulama telah mengembangkan
sistem verifikasi yang sangat ketat untuk menilai kredibilitas sebuah riwayat.
Di antaranya melalui ilmu sanad, ilmu rijal, jarh wa ta'dil,
kritik matan, serta perbandingan berbagai jalur periwayatan. Seluruh perangkat
tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa informasi yang diterima benar-benar
memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, kurang tepat
apabila sistem verifikasi yang telah berkembang selama berabad-abad ini
diabaikan hanya karena berbeda dengan metodologi sejarah Barat. Keduanya
merupakan pendekatan yang lahir dari epistemologi, tradisi keilmuan yang
berbeda serta memiliki perangkat analisis dan bidang kajian masing-masing.
Dalam membaca sirah
Nabi, Syaikh al-Buthi tidak mempertentangkan pendekatan historis dan pendekatan
keagamaan, melainkan memadukan keduanya. Suatu peristiwa dipahami melalui
beberapa lapisan sekaligus, yaitu kajian sejarah, penelitian terhadap sanad riwayat,
penjelasan Al-Qur'an, hadis-hadis yang sahih, serta prinsip-prinsip akidah
Islam. Dengan pendekatan seperti ini, sirah tidak dipahami hanya sebagai
rekonstruksi sejarah masa lampau, tetapi juga sebagai bagian dari risalah
kenabian yang membawa petunjuk bagi umat manusia.
Perlu dicatat bahwa
tidak semua akademisi Muslim sepakat dengan pendekatan Syaikh al-Buthi.
Sebagian sejarawan kontemporer menerapkan metode kritik sejarah modern secara
lebih ketat sehingga menghasilkan beberapa kesimpulan yang berbeda. Namun,
perbedaan tersebut pada dasarnya lebih merupakan perbedaan metodologi daripada
sekadar perbedaan pendapat mengenai suatu peristiwa. Syaikh al-Buthi sendiri
tidak mengajak pembaca meninggalkan historiografi modern. Sebaliknya, Syaikh
al-Buthi memanfaatkan analisis sejarah dalam banyak pembahasannya. Syaikh
al-Buthi sekadar mengkritik kecenderungan menjadikan historiografi modern
sebagai satu-satunya hakim dalam menilai wahyu, mukjizat, dan seluruh dimensi
kehidupan Rasulullah ﷺ.
Pada akhirnya,
pendekatan yang ditawarkan Syaikh al-Buthi berupaya menempatkan setiap sumber
pengetahuan sesuai kedudukannya. Historiografi modern tetap memiliki peran
penting untuk mengkaji berbagai aspek sejarah, sementara Al-Qur'an, hadis, dan
tradisi keilmuan Islam menjadi landasan dalam memahami dimensi kenabian yang
berada di luar jangkauan metode empiris. Dengan cara inilah sirah Nabi tidak
hanya dipahami sebagai rekaman peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai bagian
dari risalah yang membawa petunjuk bagi umat manusia.

.png)