Generasi Berencana: Menumbuhkan Mental Juara di Ponpes YTP Kertosono
PONPES YTP - Roadshow Generasi Berencana (GenRe) kembali digelar sebagai ikhtiar membangun karakter dan masa depan generasi muda yang lebih terarah dan berkualitas. Kegiatan yang berlangsung di Ponpes YTP Kertosono tersebut menghadirkan Bupati Nganjuk, Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A., yang akrab disapa Kang Marhaen, sebagai narasumber utama.
| Pengasuh Ma'had Menyambut Kedatangan Bupati Nganjuk |
Ia kemudian memaparkan data dari
Pengadilan Agama Nganjuk yang cukup memprihatinkan. Pada tahun sebelumnya,
terdapat 157 permohonan dispensasi nikah yang diajukan bagi anak di bawah usia
ideal pernikahan. Dari jumlah tersebut, 150 permohonan dikabulkan, dan sekitar
100 di antaranya telah hamil sebelum menikah. Fakta ini, menurutnya, menjadi
alarm serius bagi masa depan generasi muda.
“Anak-anak yang belum matang secara
intelektual dan emosional dipaksa memasuki jenjang pernikahan. Tidak sedikit
yang akhirnya berujung perceraian dalam waktu singkat,” ungkapnya dengan nada
prihatin. Di sinilah, lanjutnya, program GenRe memiliki urgensi besar:
membentuk generasi yang terencana, tangguh, dan mampu mengambil keputusan
secara bijak.
Beliau juga menyoroti pentingnya semangat dalam setiap aktivitas. Apa pun peran yang dijalani baik sebagai pelajar, santri, maupun anak di tengah keluarga, harus dilakukan dengan kesungguhan. “Semangat hari ini adalah investasi masa depan,” pesannya, yang disambut antusias para peserta.
Dalam kesempatan tersebut, Marhaen Djumadi
turut membagikan kisah hidupnya. Lahir dari keluarga sederhana di Nganjuk,
dengan orang tua dan saudara yang tidak sempat mengenyam pendidikan formal, ia
tumbuh dalam keterbatasan. Sejak kecil ia terbiasa bekerja membantu keluarga
sembari memupuk cita-cita. Baginya, latar belakang bukan alasan untuk menyerah.
Ia bercerita bahwa nama “Marhaen” yang
melekat padanya (yang berarti orang kecil) justru menjadi pengingat agar tidak
melupakan asal-usul. “Nama itu bukan beban, tapi pengingat agar saya selalu
berpihak pada masyarakat kecil,” tuturnya.Bupati Nganjuk Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A.
Dari perjalanan hidup tersebut, ia
menekankan pentingnya memiliki mental juara atau mental yang tidak takut gagal.
Ia secara terbuka menceritakan berbagai kegagalan yang pernah dialaminya dalam
kontestasi politik, mulai dari pencalonan sebagai DPR Kabupaten, DPR Provinsi,
hingga Wakil Bupati Sidoarjo. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya berhenti.
“Kegagalan selalu membawa hikmah dan memperkuat karakter,” tegasnya.
Mengangkat filosofi lokal “Anjuk Ladang”
yang berarti tanah kemenangan, ia mengajak generasi muda Nganjuk untuk percaya
diri. Anak-anak Nganjuk, katanya, lahir dari tanah kemenangan dengan potensi
besar untuk sukses. Karena itu, mereka harus berani bermimpi, menyusun rencana
hidup, dan tidak takut mencoba.
Optimisme menjadi benang merah dalam
pesannya. Senyum, menurutnya, adalah energi positif yang sederhana namun
berdampak besar. Dengan berpikir positif dan memandang orang lain sebagai aset,
bukan ancaman, seseorang akan lebih mudah membangun jaringan dan meraih
peluang.
Kang Marhaen juga menegaskan bahwa
pendidikan tidak boleh berhenti pada capaian akademik semata. Pendidikan sejati
harus membentuk karakter, kreativitas, dan ketahanan mental. Lingkungan
belajar, termasuk di Ponpes YTP Kertosono, diharapkan mampu menjadi ruang yang menyenangkan
dan memotivasi, sehingga para santri tumbuh dengan rasa percaya diri termasuk
mereka yang berasal dari keluarga sederhana.
Menurutnya, mindset adalah fondasi
utama Generasi Berencana. Sebelum menentukan tujuan hidup, seseorang harus
terlebih dahulu yakin pada dirinya sendiri. Nama besar kampus dan nilai tinggi
memang penting, tetapi mental, karakter, dan perencanaan hidup yang matang jauh
lebih menentukan keberhasilan.
Dalam konteks kewirausahaan, ia mendorong
generasi muda untuk menjadi pencipta peluang, bukan sekadar pencari kerja. Beliau
mengutip pemikiran Robert Kiyosaki tentang pentingnya pendidikan finansial dan
pola pikir kreatif. Bangsa ini, ujarnya, membutuhkan lebih banyak inovator dan
pencipta lapangan kerja yang berani mengambil risiko secara terukur.
Menutup pemaparannya, Marhaen Djumadi
kembali menegaskan bahwa Generasi Berencana harus dimulai dari perubahan pola
pikir: optimisme, keyakinan diri, dan keberanian menghadapi kegagalan. “Jangan
takut gagal, setiap kegagalan adalah pelajaran berharga,” pesannya penuh
semangat.
Ia pun mengakhiri dengan doa dan harapan
besar bagi para santri. “Semoga dari Ponpes YTP Kertosono ini lahir Presiden,
Wakil Presiden, Menteri, Jenderal, Gubernur, bahkan Bupati yang menggantikan
saya. Semua itu dimulai dari keyakinan, semangat, dan pendidikan yang tepat.
Allahumma Amin.”
Dengan semangat mental juara dan
perencanaan hidup yang matang, generasi muda diharapkan mampu menata masa depan
yang lebih baik yang tidak hanya sukses secara duniawi, tetapi juga berakhlak
dan membawa manfaat bagi masyarakat.
Kontributor: Adinda Bilqis Shofia, Berliana Prasiska, Dara Senja Infantri, Firda Haizatul Maunah, Fizahrotil Illiyin, Nadjwa Safaatul Adha, Rahmah Mazidah.